drg. Etis Duhita, Sp.PM

Penyakit ginjal kronis (PGK) atau chronic kidney disease (CKD) adalah suatu proses penyakit dengan penyebab yang beragam dan berhubungan dengan penurunan fungsi ginjal, ditandai dengan penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG) dan pada umumnya berakhir dengan gagal ginjal. Gagal ginjal adalah suatu keadaan klinis yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal yang tidak dapat diperbaiki, dimana pada suatu derajat memerlukan terapi penggantian ginjal, dialisis atau transplantasi ginjal.

CKD adalah kerusakan ginjal berupa kelainan struktural yang dapat dideteksi melalui pemeriksaan penunjang atau gangguan fungsional dengan LFG < 60 mL/menit/1,73 m2 yang berlangsung minimal 3 bulan. CKD dapat diklasifikasikan menjadi 5 derajat berdasarkan LFG. 

Penyakit ginjal kronik diklasifikasikan berdasarkan LFG sebagai berikut  


Klasifikasi derajat CKD berdasarkan LFG


Derajat  LFG (ml/menit/1,73m2)Deskripsi
 1≥90Kerusakan ginjal dengan LFG normal atau meningkat
260 – 89Kerusakan ginjal dengan penurunan LFG ringan
330 – 59Penurunan LFG sedang
415 – 29Penurunan LFG berat
5 ˂15Gagal ginjal  



CKD derajat V juga disebut dengan End-stage renal disease (ESDR). ESDR ditandai dengan berkurangnya fungsi endokrin dan metabolisme ginjal dengan retensi dan akumulasi metabolit toksik.Terapi yang bisa dipilih adalah dialisis (hemodialisis atau peritoneal dialisis) atau transplantasi ginjal. Hemodialisis dilakukan dengan mesin (dialyzer) dengan membran semipermeabel yang memungkinkan lewatnya cairan dan limbah pada darah. Limbah pada darah difiltrasi dengan mesin dan darah yang sudahdicuci dipompa kembali ke tubuh pasien. Akumulasi produk toksik yang terus menerus pada ESRD mengharuskan pasien untuk menjalani hemodialisis secara rutin. 

Manifestasi oral

Pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis terutama yang menjalani terapi cuci darah(hemodialisis), 90% nya menunjukkan gejala di rongga mulut. Kondisi ini lebih terlihat nyata pada kondisigagal ginjal tipe akhir (End-Stage Renal Disease/ESRD). Namun, gak semuanya sih, karena dengankemajuan teknologi hemodialisis saat ini, banyak manifestasi oral dari gagal ginjal dan uremia yang udahjarang terlihat. Temuan yang paling umum pada pasien dialisis adalah mukosa yang pucat karena anemia(penurunan sintesis eritropoetin). Hemodialisis juga merupakan pemicu kondisi bercak-bercak merahseperti ekimosis, petekie, dan perdarahan di mukosa mulut.  

Kondisi lain yang dapat dilihat adalah xerostomia atau mulut kering dengan atau tanpaperadangan pada kelenjar air liur parotis. Hal itu bisa terjadi karena beberapa sebab: Yang pertama, pasiendengan ESRD tidak dianjurkan minum cairan berlebih, kedua adanya inflamasi atau peradangan, dan yangketiga akibat efek samping obat yang dikonsumsi oleh pasien. Xerostomia dapat juga menjadi pemicuterjadinya karies/lubang gigi, radang gusi, dan ujung-ujungnya berkontribusi dalam kesulitan berbicara,mengunyah, menelan, nyeri pada mulut, kehilangan sensasi rasa di lidah, dan infeksi. 

Pasien juga biasanya mengeluhkan halitosis (bau mulut) dengan karakteristik ‘uremik fetor’ atau bau seperti amonia dan juga merasakan sensasi rasa logam. Hal ini terjadi karena kandungan urea yang tinggi dalam air liur dan pemecahan selanjutnya menjadi amonia.

Meskipun jarang, stomatitis uremia adalah temuan klinis lain yang dapat ditemukan. Etiologi stomatitis uremia ini tidak diketahui, lesi terdiri dari daerah kemerahan lokal atau menyeluruh yang ditutupi oleh eksudat pseudomembran yang dapat dihilangkan dengan meninggalkan mukosa utuh atau ulserasi. Lesi biasanya nyeri, paling sering muncul di bawah lidah dan permukaan mukosa mulut sisi depan.Mereka biasanya sembuh secara spontan apabila kondisi uremia-nya membaik. Namun, untukmempercepat penyembuhan lesi, berkumur dengan 10% hidrogen peroksida 4 kali sehari dapat direkomendasikan. Angular cheilitis dilaporkan pada lebih dari 4% pasien yang menerima hemodialisis,dan penyakit lichenoid dapat juga timbul terkait dengan obat antihipertensi.

Pasien yang menjalani hemodialisis umumnya memiliki status periodontal buruk yang dibuktikan dengan rata-rata CPITN (Community Periodontal Index of Treatment Needs), penumpukan karang gigi danplak yang meningkat. Penelitian telah menunjukkan bahwa perawatan gigi pasien yang menjalanihemodialisis sering diabaikan, dan mereka jarang menyikat gigi. Periodontitis sendiri berkontribusi terhadap peradangan sistemik dan dikaitkan dengan hasil hemodialisis yang buruk termasuk kematian. Jaringan tulang maksila dan mandibula juga dapat terpengaruh karena renal osteodistrofi yangdiakibatkan oleh gangguan metabolisme kalsium, fosfor, vitamin D, dan dari peningkatan aktivitasparatiroid. 

Manifestasi rongga mulut dari renal osteodistrofi meliputi kegoyangan gigi, maloklusi, batupulpa, hipoplasia email, demineralisasi tulang, penurunan trabekulasi tulang kanselus, penurunan ketebalan tulang kortikal, lesi giant cell radiolusen, fraktur rahang (spontan atau setelah prosedur gigi),dan penyembuhan tulang yang abnormal setelah ekstraksi. Untuk menghindari hipovitaminosis D dankonsekuensinya, perlu diberikan kalsitriol atau analognya untuk mengkompensasi produksi 1,25 vitaminD yang terganggu, yang terjadi pada stadium lanjut penyakit ginjal kronis (di atas stadium 3). 

Comments
* The email will not be published on the website.