Sarah Mersil, drg. Sp.PM.

Menurut World Health Organization(WHO) pada tahun 2020 penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia mencapai 11,34% dari total penduduk atau sekitar 28,8 juta jiwa dan akan meningkat hingga mencapai 15,77% atau 48,2 juta penduduk pada tahun 2035.(1) Gangguan kesehatan gigi dan mulut menjadi salah satu masalah yang berimplikasi negatif terhadap kesehatan secara keseluruhan sehingga dapat mempengaruhi kualitas hidup lansia.(2) Lansia seringkali mengabaikan kebersihan gigi dan mulutnya, sehingga sering mengeluh sakit gigi, gigi goyang dan gigi tanggal.(3)

Beberapa penelitan juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kelemahan (frailty) fisik dengan kelemahan oral (oral frailty) pada lansia. Oral frailty merupakan sebuah kondisi dan bukan penyakit. Oral frailty dikarakteristikkan sebagai gabungan penurunan fungsi oral yang meliputi lidah, bibir, dan oklusi sehingga oral frailty mempengaruhi berbagai asupan makanan, nafsu makan, dan asupan nutrisi yang berhubungan dengan kerentanan fisik.(4)

Hipofungsi oral adalah tahap berikutnya yang membutuhkan perawatan dental untuk penyembuhannya sebelum terjadinya disfungsi oral. Maka dari itu dapat diasumsikan bahwa mempertahankan fungsi oral pada lansia sangat penting.(5) Konsep kesehatan pada orang tua dan hubungan struktural di antara banyak faktor yang mengganggu kesehatan telah dibahas dari berbagai perspektif termasuk aspek medis, mental dan sosial.(6)

Saat ini,para ahli di Jepang menilai status fungsi oral pada lansia dan berusaha untuk meningkatkan "hipofungsi oral," istilah untuk kondisi di mana ada fungsi oral keseluruhan yang buruk. "Hipofungsi oral" adalah konsep klinis baru yang diusulkan oleh Society of Gerontologi Jepang pada tahun 2016 yang telah diakui oleh sistem asuransi Jepang sejak 2018. Hipofungsi oral bukanlah kondisi struktural, seperti misalnya, kehilangan gigi atau pembusukan, tetapi kondisi fisiologis yang terdiri dari tujuh indikator fungsi oral, yaitu: kebersihan mulut yang buruk, kekeringan oral, berkurangnya gaya oklusal, penurunan fungsi motorik bibir, penurunanfungsi pengunyahan, dan kemunduran fungsi menelan.(7) 

Referensi

1. Sou lissa AG. A Review of the FactorsAssociated with Periodontal Disease in the Elderly. Journal of Indonesian DentalAssociation. 2020; 3(1 ):47-53.

2. Melati CA, Susilawati S, Rikmasari R.Gambaran Kualitas Hidup Pasien Lansia Pengguna Gigi Tiruan Lepasan di RSGM Unpad. Majalah Kedokteran Gigi Indonesia.2017; 3(3):133-138.

3. Senjaya AA. Gigi Lansia. Jurnal SkalaHusada. 2016; 13(1 ): 72-80.

4. Hatanaka Y, Furuya J, Sato Y, Uchida Y, Shichita T, Kitagawa N, et al. Associationsbetween oral hypofunction tests, age, and sex. Int J Environ Res Public Health.2021;18(19):4-10.

5. Hasegawa Y, Sakuramoto-Sadakane A, Nagai K, Tamaoka J, Oshitani M, Ono T, etal. Does oral hypofunction promote socialwithdrawal in the older adults? A longitudinal survey of elderly subjects inrural Japan. Int J Environ Res Public Health. 2020; 17(23): 1-11.

6. Minakuchi S, Tsuga K, lkebe K, Ueda T,Tamura F, Nagao K, et al. Oral hypofunction in the older population: Position paper ofthe Japanese Society of Gerodontology in 2016. Gerodontology. 2018;35(4):317-24.

7. Nakamura M., Hamada T, Tanaka A.,Nishi K, Kume K, Goto Y, Beppu M., HijiokaH, Higashi Y, Tabata H, et al. Association of Oral Hypofunction with Frailty, Sarcopenia,and Mild Cognitive Impairment: A Cross­Sectional Study of Community-Dwelling Japanese Older Adults. J. Clin. Med. 2021;10 : 1 -12.

Comments
* The email will not be published on the website.