Halitosis adalah istilah umum yang digunakan untuk menggambarkan bau yang tidak menyenangkan dari rongga mulut. Halitosis tidak hanya disebabkan dari kondisi rongga mulut itu sendiri, namun juga dapat disebabkan oleh etiologi di luar mulut, misalnya gangguan di saluran pernapasan atas dan bawah, saluran pencernaan, serta beberapa penyakit yang melibatkan ginjal atau hati. 

Namun tidak hanya itu saja, terdapat juga halitosis yang penyebabnya berkaitan erat dengan kondisi kejiwaan seseorang, dimana orang tersebut berkeyakinan bahwa dirinya memiliki bau mulut, walaupun hal ini tidak terbukti secara objektif melalui pemeriksaan, kondisi ini dikenal dengan sebutan delusional halitosis. Profesional kesehatan termasuk dokter gigi, psikiater dan psikolog klinis harus membekali diri dengan informasi terkait delusional halitosis agar dapat memberikan perawatan secara tepat.

Kepribadian dan Kondisi Psikologis

Terdapat hubungan antara delusional halitosis dengan faktor psikologis pasien, seperti kepribadian, kecemasan, depresi, dan tingkat stres. Kecemasan menjadi faktor risiko yang terbesar yang mempengaruhi delusional halitosis sehingga meningkatkan sensitivitas terhadap bau badan serta kecemasan terhadap reaksi orang lain terhadapnya. 

Beberapa pasien dengan delusional halitosis mengklaim bahwa kondisi oral dan atau ekstra-oral atau perawatan gigi sebelumnya mungkin menjadi penyebab bau mulut mereka. Penelitian menunjukkan korelasi yang signifikan antara faktor oral (rasa pahit, karies, dan perawatan gigi sebelumnya) sebagai peristiwa pemicu, yang dapat mempengaruhi individu-individu yang mungkin memiliki kecenderungan psikosomatik yang mendasari untuk mengembangkan halitosis delusi. Kemudian, kebiasaan makan, kualitas kebersihan mulut seseorang, perubahan hormonal dan persepsi diri sendiri secara keseluruhan berhubungan dengan usia. Hal itulah yang menyebabkan pasien dengan usia yang lebih muda cenderung mengalami delusional halitosis.

Pasien biasanya menunjukkan emosionalitas, kecurigaan, kepercayaan diri yang buruk, dan kecemasan yang tinggi terhadap situasi tertentu. Empat dari lima pasien menunjukkan bukti impulsif pikiran dan tindakan yang tak tertahankan, serta kecenderungan tinggi untuk cemas. Sementara itu, ketidaknyamanan tubuh, ketidaknyamanan dalam situasi sosial, perasaan gugup, marah, ketakutan irasional, juga terlihat pada kondisi pasien. Hanya sedikit pasien delusional halitosis yang menunjukkan bukti depresi klinis ringan, hal ini menunjukkan bahwa pasien dengan delusional halitosis sangat emosional tetapi jarang yang mengalami depresi. 

Pasien yang terkena delusional halitosis banyak yang tidak mengunjungi psikolog atau psikiater, karena mereka tidak dapat mengenali kondisi psikosomatik mereka sendiri. Pasien-pasien ini menafsirkan bau mulutnya dari perilaku orang lain, seperti menutup hidung atau memalingkan muka, sebagai indikasi bahwa napas mereka tidak sedap. Hal ini tentu akan mempengaruhi hubungan interpersonal dan sosial mereka.

Apa yang dapat dilakukan dokter gigi?

Penting bagi dokter gigi dan profesional kesehatan mental untuk menyadari karakteristik kepribadian dan psikologis, untuk memastikan diagnosa serta perawatan yang tepat untuk pasien dengan delusional halitosis.Rongga mulut adalah sumber utama halitosis dan beberapa pasien juga mengkaitkan delusi mereka dengan faktor oral, maka dapat dimengerti bahwa mereka cenderung mencari perawatan awal ke dokter gigi. 

Ketika pasien dengan delusional halitosis berobat ke dokter gigi, maka dokter gigi harus dapat berkomunikasi atau memberikan konseling sebagai perawatan pertama sebelum merujuk ke psikolog atau psikiater. Dalam masyarakat di mana penyakit mental dianggap sebagai hal tabu, pasien yang menderita delusional halitosis merasa lebih nyaman berbicara dengan dokter gigi daripada langsung menemui psikolog atau psikiater.

Sebagian besar pasien memiliki sifat kecemasan, dengan gejala klinis depresi ringan. Namun, dokter gigi disarankan untuk peka dan memastikan tanda-tanda depresi (kemurungan, isolasi sosial, penyalahgunaan zat, perubahan jam tidur yang signifikan, pola makan, dan pekerjaan) sebelum meresepkan obat tertentu kepada pasien.


Referensi:

  1. Akhigbe KO, Koleoso ON, Akpata O, Omoregie FO. A study of personality and psychological distress among delusional halitosis patients. J Med Biomed Res. 2008; 7(1-2): 5-11
  2. Vali A, Roohafza H, Keshteli AH, et al. Relationship between subjective halitosis and psychological factors. Int Dent J. 2015; 65(3):120-126
  3. Akpata O, Omoregie OF. Oral factors associated with delusional halitosis: a report of 3 cases and review of the literature. Afr J Oral Health. 2016; 6(1): 21-25.

Sumber artikel: https://app.docquity.com/#/clinical/detail/6574

Comments
* The email will not be published on the website.